Islam adalah agama yang Universal,
yang tidak hanya membahas pemasalahan ibadah yang berhubungan dengan akherat,
tetapi Islam juga mencakup segela aspek kehidupan manusia yang ada kaitannya
dengan duniawi, yang salah satunya adalah mencari penghidupan. Sungguh Islam
sangat membenci pengangguran dan sangat menganjurkan untuk mencari penghidupan.
Bagaimana seorang muslim dapat berinfak apabila tidak memiliki harta, bagaimana
akan bisa menghidupi keluarga apabila tidak memiliki penghasilan.
Perintah bekerja dan mencari penghasilan
Sesungguhnya seorang kepala keluarga mempunyai kewajiban untuk memberikan nafkah kepada keluarganya, Allah ta'ala berfirman;
عَلَى
الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf. (QA. Al Baqarah:223)
Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini; yaitu kewajiban bagi ayah si anak agar memberikan rizki kepada ibu yang menyusuinya
Sesunggunya Allah ta'ala telah menjadikan siang untuk mencari penghidupan, Allah ta'ala berfirman:
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
Ibnu katsir
mengatakan dalam menafsirkan ayat di atas, "dan telah kami jadikan timur
bercahaya terang agar memungkinkan bagi manusia untuk pulang dan pergi mencari mata pencaharian, penghidupan
dan perdagangan.
Islam memerintakan
seorang muslim untuk memberikan nafkan berupa makanan, pakaian dan tempat
tinggal kepada kaum kerabat tentunya sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.
Allah ta'ala berfirman;
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat (QS. An Nisa':36)
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. Ath Thalaaq:7)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
- رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَا بَعَثَ
اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ » . فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ
فَقَالَ « نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ »
dari Abu Hurairah ra bahwasanya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "tidaklah Allah
ta'ala mengutus seorang Nabi pun, kecuali ia menggembala kambing."
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- قَالَ « كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا »
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "sesungguhnya Nabi
Zakaria (Alaihis salam) adalah tukang kayu, (HR. Muslim)
Ibnu Abbas mengatakan, "Adam
menjadi petani, Nuh menjadi tukang kayu, Idris menjadi penjahit, Ibrahim dan
luth menjadi petani, Shalih menjadi pedagang, Daud menjadi pandai besi, Musa,
Syu'aib dan Muhammad menjadi penggembala.
Banyak orang yang mempunyai
anggapan bahwa pekarjaan para Nabi di atas adalah pekerjaan yang hina yang
rendah yang tidak layak, padahal sesungguhnya pekerjaan tersebut memiki nilai
kemandirian dan entrepreneur.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda,
ما أكل أحد طعاماً قط
خيراً من أن يأكل من عمل يده، وإن نبى الله داود كان يأكل من عمل يده
Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud juga makan dari kerja tangannya sendiri (HR. Bukhari)
Kabar gembira bagi orang
yang bekerja keras
Orang yang bekerja keras untuk menghiduoi keluarganya mendapatkan semangat dan kabar gembira adari Allah ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Hasil usaha banting tulang untuk membiayai kebutuhankeluarga di anggap sebagai shadaqah yang lebih besar pahalanya dari shadaqah untuk jihad dan memerdekaan budak.
Dari Tsauban bin Budud, maula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Dinar (Harta) peling utama yang diinfakkan ileh seseorang adalah dinar yang ia keluarkan untuk membiayai kebutuhan keluarganya, dinar yang dia keluarkan untk biaya kendaraan perang di jalan Allah dan dinar yang dia keluarkan untuk membiayai reka-rekannya berperang di jalan Allah (HR. Muslim dalam kitabu zakat (38), Ibnu Majah dalam kitabu jihad nomor 2760)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "dinar yang engkau keluarkkan untk berperang di jalan Allah, dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan budak, dinar yang engkau keluarkan untuk fakir miskin dan dinar yang engkau keluarkan untuk membiayai kebutuhan keluarga. Dari empat dinar yang engkau keluarkan ini, yang paling besar pahalanya adalah yang engkau keluarkan untuk membiayai keluargamu." (HR. Muslim dalam kitabu zakat)
Ancaman bagi orang yang
tidak mau bekerja
Apabile bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kerabat dihitung sebagai ibadah dan shadaqah yang paling utama, maka sebaliknya orang yang malas untuk bekerja dan enggan untuk melakukannya adalah tergolong sebagai kemaksiatan dan perbuatan dosa, terlebih apabila menyebabkan keluarganya terlantar dan tergantung kepada orang lain,
Dari Abdullah bin Maru ra bawasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
كَفَى
بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
"Cukuplah dianggap seseorang berbuat dosa apabila ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.' (HR. Abu Daud dalam kitabu zakat nomor; 1692, Ahmad 2/160)
Al Khattabi mengatakan, "maksudnya adalah orang yang harus ia tanggung (keluarganya)
Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
ما
يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة ليس في وجهه مزعة لحم
"Seseorang yang selalu meminta-minta (mengemis) kepada masyarakat, akan menghadap Allah ta'ala dalam keadaan wajahnya tidak tertutup sekerat dagingpun." (HR. Bukhari dalam kitab ahkam nomor: 723, dan Muslim dalam kitabu zakat nomor 111)
Al Khattabi mengatakan, "kemungkinan maksudnya adalah dia di adzab pada wajanya hingga terkelupas seluruh daging karena dahsyatnya siksaan."
Begitu pentingnya masalah
bekerja memenuhi kebutuhan keluarga dan tidak tergantung kepada orang lain,
sehingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam perlu mengangkat bai'at para
sahabat untuk tidak mengaggantungkan diri kepada belas kasihan orang lain,
sebagaimana beliau menbai'at para sahabat untuk bertauhid dan melaksanakan
shalat. Kepada sahalabat 'Auf bin Malik al Asyja'I dan sekitar sahabat lainnya,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, " Kenapa kelian tidak
membai'at Rasulullah? Mereka menjawab, "Kami telah membai'at anda (untuk
masuk Islam), wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
mengulangi lagi pertanyaannya, maka para sahabat mengulurkan tangan mereka dan
berkata, "Kami telah membai'at anda, wahai Rasulullah. Lantas kami harus
membai'at anda untuk masalah apal lagi? Beliau menjawab,"kalian
membai'atku untuk tidak berbuat syirik, untuk mengerjakan shalat
Referansi
1. tafsir jami'ul bayan - imam ath thabari
2. tafsir Ibnu Katsir
3. Fathul Bari syarhul Bukhari - Ibnu Hajar
4. Aunul ma'bud
5. mukhtashar minhajul qashidin
6. Risalah An Nuur edisi3 tahun ke 7 rabi'ul awwal 1425 H
| Comments |
|









