Dr. Daud Rasyid, M.A.
Ada istilah yang cukup terkenal dalam dunia komunikasi: "Siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai dunia." Ungkapan ini dapat dibenarkan, karena secara objektif bidang apa pun di dunia ini hampir tidak ada yang mampu melepaskan dirinya dari informasi. Jika itu diterapkan dalam diskurus Islam, sebenarnya Islam itu adalah informasi. Wahyu adalah informasi, yaitu informasi tentang Allah, alam, manusia, dunia, akhirat, dan seterusnya. Al-Qur'an juga mengandung banyak informasi. Ada informasi tentang mikrokosmos; ada pula informasi tentang dunia makrokosmos. Di dalamnya juga terkandung informasi sains, sejarah, kedokteran, hukum, ekonomi, politik, dan sebagainya. Salah satu cara untuk memperoleh informasi adalah dengan komunikasi. Tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa Al-Qur'an sebenarnya sudah empat belas abad silam berbicara tentang informasi dan komunikasi sekaligus. Mari kita simak kandungan dan pemahaman ayat berikut.
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka cek dan riceklah berita itu, agar kamu tidak menimpakan suatu malapetaka kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu menyesal atas perbuatan itu." (Al-Hujuraat: 6).
Pada ayat di atas, Allah memperingatkan kaum beriman agar bersikap waspada dan kritis pada dua unsur: (1) berita, dan (2) sumber berita. Jika direnungkan, ayat di atas akan sangat berarti dalam menjaga ketenteraman dan ketahanan secara individual maupun nasional. Sebab jika diamati, memang kedua unsur inilah yang banyak berperan dalam menimbulkan gejolak atau ekses yang kurang baik dalam kehidupan. Banyak orang terjerumus ke dalam "kesesatan" karena tidak kritis dalam menerima informasi, atau menelan "bulat-bulat" apa yang diterimanya dari suatu sumber. Apalagi, bila kita perhatian, yang memegang "kantong-kantong" informasi di dunia ini adalah tangan-tangan non-Islam. Mereka tidak sekadar orang fasik, seperti yang disebutkan Al-Qur'an, bahkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Jadi, dari unsur ini (baca: sumber) saja menuntut kita harus ekstra ketat dalam menerima informasi.
Ketika umat Islam--yang menjadi konsumen terbesar informasi--tidak bersikap waspada dan kritis, maka apa yang dikhawatirkan oleh ayat tersebut sudah tentu dengan mudah menjadi kenyataan. Akibat yang dikhawatirkan itu adalah ikut sertanya dalam menyesatkan orang lain. Dalam dunia kontemporer, kondisi yang perlu diwaspadai itu ialah turut sertanya dalam membentuk opini publik yang tidak benar.
Memang yang diminta dari kita bukanlah menutup diri sama sekali (eksklusif) dari berbagai sumber informasi, karena sikap ini kurang menguntungkan dalam persaingan hidup, khususnya pada era globalisasi ini. Bahkan, suatu hal yang sulit sekarang ini adalah menghindar dari arus informasi. Akan tetapi, yang sangat dituntut ialah meningkatkan daya filter, kewaspadaan, dan kemampuan membedakan antara informasi yang layak diterima dengan informasi yang harus ditolak, karena tidak relevan dan tidak objektif dalam penyajian dan analisanya.
Orang yang "kebal" terhadap arus akan cenderung lebih aman dari berbagai ancaman, kendatipun ia hidup di tengah arus informasi yang serba membingungkan. Di sinilah, barangkali, rahasia pemilihan kata "tabayyun" yang digunakan Al-Qur'an, bukan "radd" yang berarti menolak mentah-mentah, sebab informasi yang dibawa oleh suatu sumber, walaupun orientasinya tidak jelas, tidak seluruhnya merugikan dan bersifat negatif. Tabayyun lebih mengarahkan pada sikap kritis dengan melakukan check and recheck. Artinya, menumbuhkan potensi untuk dapat memilah-milah informasi.
Secara validitas, informasi dapat dibagi tiga.
- Inormasi yang layak diterima, karena berbicara mengenai masalah yang bebas nilai (value free), seperti sains, penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi, dan lain-lain.
- Ada informasi yang perlu diseleksi karena menyangkut masalah yang berkaitan dengan nilai, walaupun secara tidak langsung. Dalam aspek ini diperlukan ketajaman analisis dan kemampuan memilah informasi yang didapatkan, sebab kebiasaan pers Barat dan pers-pers Timur yang kebarat-baratan pandai mencari "benang merah" antara tindakan kekerasan (terorisme) di belahan bumi mana pun di dunia ini dengan unsur Islam atau Arab.
Di sini diperlukan kekritisan pembaca atau pemirsa. Informasi tentang suatu kejadian un sich--katakan saja umpamanya--serangan balasan yang dilakukan oleh pejuang HAMAS di Palestina terhadap pasukan Israel dalam rangka mempertahankan diri--adalah dibenarkan. Akan tetapi, biasanya pers Barat selalu menuduh bahwa kelompok HAMAS itu teroris, sementara Israel itu bangsa yang perlu dilingungi. Padahal, kenyataan yang terjadi itu sebaliknya, Zionis Israel adalah bangsa penjajah, sementara HAMAS adalah kelompok perlawanan yang berusaha mempertahankan dan memperjuangkan haknya, yang selama ini dirampas oleh Israel.
Nah, bila pembaca atau pemirsa kurang arif betul dengan trik-trik jurnalistik Yahudi dan kurang selektif, akan dengan mudah terpengaruh dan akhirnya terjebak dalam pembentukan opini publik yang tidak benar, bahkan menyesatkan. Inilah yang diperingatkan Al-Qur'an tadi.
- Ada jenis informasi yang langsung berkaitan denan nilai. Dalam masalah ini kehati-hatian harus dilipatgandakan, dan yang paling aman adalah menolak informasi yang berasal dari sumber yang tidak bertanggung jawab.
Ketika media massa Barat berbicara tentang sejumlah konsep ajaran Islam, seperti hijab, kedudukan wanita, emansipasi, penerapan syariat Islam, jihad, toleransi beragama, kebebasan berpikir, dan yang sejenisnya, maka berbagai kerancuan akan segera muncul. Mungkin dalam bentuk pemutarbalikkan fakta, menutup-nutupi kebenaran, "perkosaan" terhadap teks, memberikan interpretasi semaunya, memahami teks agama secara keliru, dan sebagainya. Di sini barangkali perlu diperhatikan ayat-ayat berikut.
"Dan tidaklah senang kepadamu orang-orang Yahudi dan Nasrani, hingga kamu mengikuti agama mereka ...." (Al-Baqarah: 120).
"Pasti akan kamu jumpai orang-orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman adalah Yahudi dan orang-orang musyrik ...." (Al-Maaidah: 82).
".... Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu, hingga mereka sanggup memurtadkan kamu dari agamamu, jika mereka sanggup ...." (Al-Baqarah: 217).
Oleh karena itu, dianjurkan bagi setiap muslim yang belum kuat imannya untuk tidak mengonsumsi berita atau analisis yang menjurus ke arah itu.
Trik-Trik Pers Barat
Contoh pemutarbalikkan fakta yang cukup terang ialah seperti telah disebutkan di atas, yaitu tentang Palestina. Media Barat benar-benar tidak seimbang (memihak) dalam menyajikan berita--apalagi analisis--tentang perjuangan bangsa Palestina. Bangsa Palestina yang memperjuangkan hak-haknya yang legal dan sangat asasi dari rampasan bangsa Israel digambarkan oleh pers Barat sebagai "pemberontak". Perjuangan HAMAS yang didukung oleh mayoritas rakyat Palestina dianggap sebagai tindakan "terorisme".
Sementara, pemerintah Israel yang sesungguhnya perampok digambarkan sebagai pemerintah yang legal dan benar. Kejahatan tentara-tentara Israel yang "menyembelih" rakyat Palestina hampir setiap hari tidak disebut sebagai tindakan terorisme. Serangan-serangan militer Israel ke Lebanon Selatan yang setiap hari memakan korban--tewas dan luka-luka--tidak dianggap sebagai tindakan terorisme.
Menutup-nutupi kejahatan sebagai trik biasa dilakukan pers Barat bila berkaitan dengan kepentingan bangsa Yahudi. Sebagai contoh adalah kasus pembantaian terhadap kaum muslimin Bosnia pada tahun 1991. Enam bulan lamanya pers Barat "bungkam", tidak memberitakan sedikit pun sejak awal terjadinya malapetaka kaum muslimin di Bosnia. Hingga dunia Islam mulai "ribut", barulah pers Barat memuat berita-berita Bosnia. Pertanyaannya, apakah peristiwa Bosnia tidak mereka ketahui sejak awal atau sekitar enam bulan sebelumnya? Suatu hal yang tidak masuk akal, melihat kecanggihan sarana informasi pada zaman modern ini.
Salah satu trik jurnalistik Barat adalah membesar-besarkan orang-orang yang "berani" mengkritik Islam, apalagi bila pengkritik itu dari kaum muslim sendiri. Pers Barat menyanjung habis-habisan Salman Rushdi dan menggambarkannya seolah-olah sebagai "pahlawan" karena berani mengkritik Islam, melecehkan ayat-ayat Allah, dan menghina Nabi saw. dalam bukunya, The Satanic Verses. Foto Salman dimuat di hampir setiap media massa dan diagung-agungkan sebagai orang ilmiah karena berani mendobrak kemapanan dan mampu berpikir bebas. Tak tanggung-tanggung, Presiden Bill Clinton mengundang Salman ke Gedung Putih dan disambut secara meriah.
Dominasi Zionisme Yahudi dalan dunia media massa begitu hebat kita rasakan, khususnya pers. Seolah-olah kehidupan kita sekarang bagai dikepung oleh kekuatan Zionis internasional. Kita mengetahui sesuatu itu "salah", tetapi kita kesulitan mendapatkan sarana untuk menyalurkan pendapat agar suara kita didengar atau dibaca oleh orang banyak, sebab mereka telah menguasai link media massa yang utama, yaitu mencakup:
- kantor berita (news agency),
- surat kabar (press)--jaringan televisi dan radio,
- industri sinema--program televisi dan sinetron, serta
- industri percetakan--penerbitan (publishing), dan penyaluran (distribution).
Bagaimana Yahudi Berhasil Menguasai Media Massa?
Dahulu Yahudi pernah menjadi bahan pelecehn orang, termasuk di Eropa dan Amerika. Dalam karya-karya sastranya, pujangga dan penyair-penyair besar sering merangsang kebencian orang pada insan Yahudi. Tak kurang Shakespeare, penyair terkenal Inggris, mengikuti tren ini. Dalam salah satu novelnya yang berjudul "Pedagang Senjata", Shakespeare menampilkan Sheluck, sang pedagang, sebagai sosok Yahudi yang bersifat kerdil, licik, kotor, dan pendengki. Begitulah kesan orang Barat dahulu terhadap orang Yahudi.
Akan tetapi, belakangan ini, kesan itu secara drastis berubah seratus delapan puluh derajat. Yahudi berhasil mem-brain washing 'mencuci otak' opini publik dunia, khususnya Amerika dan Eropa, dan mengubah kesan dunia dari sosok manusia yang bengis, keji, menakutkan, kikir, bejat, haus darah, pengkhianat, pengecut, egois, dan sebagainya menjadi sosok manusia yang pintar, cerdas, trampil, intelek, dan sebagainya.
William Ghai Kar dalam bukunya, Ahjar 'ala Ruq'at asy-Syatrani (edisi bahasa Arab), menyebutkan bahwa seorang profesor pengajar ilmu teologi dan hukum internasional di Universitas Ingoldstadt, Jerman, bernama Adam Weishaupt, pemeluk Yahudi, pada tahun 1776 mendirikan sebuah organisasi rahaia Yahudi dengan nama "Perkumpulan Orang-Orang Nuraniy". Nama ini berasal dari simbol-simbol Freemasonry yang anggotanya terdiri atas dua ribu orang Yahudi. Adam meletakkan anggaran dasarnya untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu menguasai dunia. Dalam pasal empat dari anggaran dasar itu disebutkan, "Bagi anggota Nuraniy harus berusaha untuk mendominasi pers berita seluruh saluran media massa dan menguasai berita."
Pada tahun 1869, Rashoron, seorang rabi Yahudi, berpidato di Praha, menggambarkan perhatian Yahudi yang cukup besar terhadap media massa. Katanya, "Jika emas merupakan kekuatan kita yang pertama, maka pers harus merupakan kekuatan kita yang kedua." (Fou'ad ibn Sayyid Abdur Rahman ar-Rifa'i, An-Nufuz al-Yahudy fi al-Ajhizat al-I'lamiyah wa al-Mu'assasat as-Dawliyyah [Mesir: Dar al-Yaqin al-Manshurah, 1992], hlm. 2).
Tahun 1897 telah diselenggarakan "Kongres Zionisme Internasional I" yang diprakarsai oleh Theodore Hertzl di kota Paal, Swiss. Pertemuan itu telah melahirkan "Protocole of Zion". Dalam protokol nomor 12 disebutkan sebagai berikut.
- Semua saluran media massa yang merupakan sarana untuk menuangkan pemikiran manusia harus sepenuhnya berada di tangan kita.
- Seluruh jenis dpenerbitan atau percetakan harus dalam penguasaan kita.
- Sastra dan pers merupakan dua kekuatan informasi utama dan harus kita kuasai.
- Musuh-musuh kita tidak boleh memiliki sarana pers untuk menuangkan pemikiran mereka, dan kalaupun ada haruslah dipersempit dan ditekan dengan segala cara agar tidak mempu menyerang kita.
- Tidak sepotong berita pun boleh sampai ke masyarakat sebelum melalui kita, dan jika kita berhasil menguasai kantor-kantor berita, tidak ada berita yang kita siarkan selain yang kita kehendaki saja.
- Pers berkala harus kita kuasai agar dengan mudah kita menggerakkannya sesuai dengan kepentingan kita.
Sebenarnya jauh sebelum Kongres Zionisme 1897 itu, pers Barat sudah dikuasai oleh Yahudi. Itu dapat dibaca dari surat kabar Inggris The Graphic No. 22, Juli 1879, yang menulis, "Pers benua Eropa berada di bawah cengkeraman Yahudi." Hanya saja, waktu itu dominasi itu kurang efektif untuk dapat mengubah sosok insan Yahudi. Bahkan, kendatipun mereka bekerja keras untuk mengubah asumsi bangsa-bangsa Eropa dan Amerika tentang Yahudi, namun belum berhasil hingga dekade keempat dari abad ke-20 ini.
Akan tetapi, kesan itu serta merta berubah total setelah terjadinya pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler dengan gerakan Nazime-nya. Peristiwa ini benar-benar dimanfaatkan media massa Barat yang dikuasai kaum Zionis untuk menarik rasa simpati dan rasa kasihan orang-orang Eropa terhadap bangsa Yahudi. Zionis berhasil membesar-besarkan isu itu melalui pers, film, dan cerita-cerita novel tentang "cerita" pembantaian massal, pembakaran bangsa Yahudi di dalam oven gas oleh Nazi Hitler (holocaust). Ada foto menggambarkan satu orang Yahudi yang tanggannya sedang diborgol di dinding tembok dikerumuni oleh puluhan tentara yang akan menembakinya. Ada pula foto tentang puluhan Yahudi yang diawasi oleh seorang pasukan Nazi. Dari wajah mereka terlihat rasa sendu dan minta dikasihani. Kisah pembantaian itu sendiri masih diliputi berbagai tanda tanya, yang banyak meragukan kebenaran peristiwa itu. Dan kalaupun terjadi, jumlah dan suasananya jelas dibesar-besarkan oleh bangsa Yahudi untuk tujuan-tujuan politik mereka.
Kendatipun kasus holocaust di satu sisi membawa korban di pihak Yahudi, kalaupun itu benar, tetapi di sisi lain menguntungkan mereka. Hasil yang mereka petik di balik itu ialah berubahnya opini publik dunia dari sikap membenci menjadi kasihan dan menaruh simpati, bahkan sampai menerima konsep Yahudi untuk "kembali ke Palestina".
Dalam waktu yang sama, propaganda Yahudi juga gencar terhadap bangsa Arab dengan dua arah: pertama, mengaburkan sejarah Arab-Islam dengan mengingatkan orang-orang Nasrani-Eropa dan Amerika akan ancaman Islam terhadap Kristen. Mereka memperingatkan akan kemenangan-kemenangan bangsa Arab-Islam di negeri Syam, Mesir, Afrika pada periode pertama. Begitu juga kemenangan Islam di Eropa dan Costantinopel pada abad pertengahan. Mereka juga menggencarkan propaganda kekalahan pasukan salib pada Perang Salib di Hittin, yang kemudian terusir dari pos mereka terakhir, yaitu Palestina.
Kedua, propaganda bangsa Yahudi terhadap bangsa Arab sebagai bangsa terbelakang yang dikendalikan oleh hawa nafsu sex yang menggebu-gebu, minuman alkohol, berjudi, primitif, kasar, dan bodoh. Sasaran Zionis di sini adalah meyakinkan kepada dunia--yang mayoritas Nasrani itu--bahwa bangsa Arab adalah musuh legendaris bagi peradaban Eropa-Kristen. Sehingga, mereka telah mudah menggiring opini publik dunia agar berada di barisan mereka dalam setiap pertarungan melawan bangsa Arab-Islam.
Dengan begitu, Yahudi sukses mencuci otak opini publik dunia. Itu semua karena keberhasilan Zionisme dalam menguasai saluran media massa dunia.
Kantor Berita (News Agency)
Salah satu cara Yahudi untuk menguasai dunia komunikasi adalah dengan mengepung sumber pertama keluarnya berita, yaitu kantor berita. Fungsi kantor berita bagi sebuah surat kabar ibarat peluru dengan sarangnya. Hal ini mengingatkan kita pada salah satu kandungan Protokol Zionisme nomor 12 yang menyebutkan, "Sepotong berita pun tidak boleh sampai ke masyarakat sebelum mendapat persetujuan dari kita. Karena itu, kantor-kantor berita yang merupakan sumber seluruh berita dari seluruh pelosok dunia harus kita kuasai. Pada saat itu barulah kita menjamin bahwa tidak ada berita yang tersebar kecuali yang kita pilih dan kita setujui."
Jika kita perhatikan satu per satu posisi Yahudi pada news agency yang tersebar di dunia ini, dapat kita katakan bahwa apa yang dahulu mereka rencanakan sekarang telah menjadi kenyataan. Hampir seluruh "kantong-kantong" berita dunia berada dalam cengkeraman mereka. Di antara kantor-kantor berita terkemuka di dunia ini adalah sebagai berikut.
- Reuter, kantor berita terbesar. Pendirinya ialah Julius Paul Reuter, seorang Yahudi, lahir pada 12 Juli 1816 di kota Kasel, Jerman. Nama aslinya hingga tahun 1844 adalah Israel Beer Josaphat. Semula ia bekerja pada sebuah bank di kota Rotingen, Jerman. Kemudian, ia mendirikan sebuah kantor berita untuk mengumpulkan dan menyalurkan informasi perbankan dan efisiensi ekonomi secara ekspres dan teratur. Aktivitas kantor ini mencakup sejumlah besar kota-kota Jerman hingga Brussel. Kemudian, pusat kegiatannya berpintah ke Paris hingga tahun 1851. Lalu, terpaksa pindah ke London karena ketatnya peraturan di Prancis ketika itu.
Setelah ditemukan sistem telegraf yang maju, Reuter memperluas bidang jangkauannya hingga mencakup berita-berita politik dan sosial. Pers Inggris akhirnya bertumpu pada Reuter. Kantor ini mengukir rekor ketika ia berhasil menyiarkan teks pidato Napoleon ketika tahun 1858, satu jam sesudah acara itu. Ia juga berhasil mentransfer berita perang saudara di Amerika dalam waktu yang relatif cepat ketika itu. Tahun 1857 Reuter berhasil mendapatkan kewarganegaraan Inggris.
- Associated Press (AP) berdiri tahun 1848 sebagai hasil kerja sama dari lima perusahaan surat kabar Amerika. Jadi, waktunya relatif bersamaan dengan Reuter. Belakangan AP berubah menjadi perusahaan "koperasi" yang anggota-anggotanya mencakup sebagian besar perusahaan surat-surat kabar dan majalah Amerika yang terkenal di bawah dominasi Zionisme.
- United Press International (UPI). Pada tahun 1907 Edward Scribes dan R. Wilson Harvard mendirikan kantor berita "Scribes Harvard United Press", sementara William Randolf Herst mendirikan kantor berita "International News Service" pada tahun 1909. Kedua perusahaan kantor berita ini bergabung pada tahun 1958 dengan nama UPI.
Perlu disebutkan di sini bahwa William Herst adalah suami dari Marion Davies, artis terkenal dan juga penari Yahudi Amerika ketika itu, dan dia didukung secara penuh dalam kampanye pemilu untuk merebut kursi sebagai "penguasa" New York.
- Di Prancis, Hashet, seorang Yahudi, mendirikan "Hashet New Agency" pada tahun 1851. Kantor ini selama menjelang Perang Dunia II dipegang oleh seorang Yahudi, Horas Winalli.
- Seorang Yahudi dari kelurga Havas telah mendirikan kantor berita "Havas" pada tahun 1835, yang belakangan menjadi kantor berita resmi negara Prancis. Sebelum PD II, direkturnya ialah seorang Yahudi bernama Charles Louis Havas.(laks/alslm/adm)
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||








