Ibarat lentera di tegah kegelapan malam, cahayanya sebagai penerang jalan, sehingga akan menghantarkan seseorang menuju keselamatan hingga tujuan. Namun jika cahayanya padam maka akan menjerumuskan seseorang terperosok ke dalam lubang, itulah ulama panutan umat.
Ulama merupakan orang yang telah Allah pilih sebagai penerus risalah nubuwah, mereka adalah pewaris para nabi yang akan membimbing umat menuju cahaya Allah. Rasulullah bersabda,
إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia sungguh telah mengambil bagian yang melimpah." (HR. Tirmidzi)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Ini adalah kedudukan yang paling agung bagi orang yang berilmu. Para nabi adalah sebaik-baik hamba Allah, mereka mewariskan warisannya kepada generasi mereka, dan setiap yang diwariskan akan pindah kepada ahli waris, dan mereka adalah yang menempati kedudukan mereka (para nabi), tidak ada orang yang menduduki kedudukan para nabi kecuali para ulama. Maka mereka lebih berhak untuk mendapatkan warisan para nabi".
Para salaf dalam mendudukkan para ulama dan masayikh sebagaimana penghormatan mereka kepada Rasulullah karena mereka adalah pewaris nabi, yaitu yang mewarisi ilmu dan sunnahnya.
Namun hari ini masih jarang kita dapati orang-orang yang bisa mendudukkan para ulama sebagaimana mestinya. Umat banyak yang terjebak ke dalam jerat syetan, yaitu antara ifroth (berlebihan) terhadap mereka sehingga tanpa sadar menyeretnya ke dalam kesyirikan, atau terlalu tafrith (meremehkan), sehingga menyebabkan enggan bahkan menolak kebenaran yang datang kepadanya.
Kriteria Ulama
Fenomena yang terjadi di masyarakat pada umumnya, mereka memandang bahwa orang yang kerap naik mimbar, sering ceramah, selalu menggunakan kopiah atau surban di kepalanya mereka itulah yang dianggap sebagai ulama, meskipun tidak jarang di antara mereka yang masih jauh dari nilai-nilai islam.
Tidakkah kita ingat perkataan Ibnu Mas'ud bahwa tidaklah dikatakan alim (berilmu) itu dengan banyaknya hafalan hadits, tetapi orang alim adalah yang khosyah-(rasa takut) nya kepada Allah tinggi.
Dr. Nasir bin Abdul Karim berkata, "Ulama adalah oarng-orang yang mengetahui sekaligus memahami syariat Allah dan mengamalkannya, mereka mengikuti petunjuk al-qur'an dan as-sunnah serta salafus shalih".
Antara Ulama Akherat dan Ulama Su'
Ulama adalah pewaris para nabi, tempat rujukan penyelesaian probematika umat serta sebagai tempat untuk menimba ilmu. Oleh karenanya seharusnya kita selektif dan berhati-hati dalam memilih mereka untuk kita jadikan rujukan dan tempat menimba ilmu. Karena tidak semua ulama itu memiliki orientasi akherat untuk memperoleh ridho Allah ta'ala. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengejar kemegahan dunia serta kedudukan di hadapan manusia, sehingga rela menjual ilmu mereka dengan harga yang murah. Mereka itulah kategori ulama su' yang musti kita jauhi.
Al-'Alamah Ibnul Qayyim berkata, "Ulama su' duduk di pintu-pintu jannah menyeru manusia dengan lisan lisan mereka dan menyeru manusia ke neraka dengan perbuatannya".
Sedangkan ulama akherat adalah mereka yang tidak silau dengan gemerlapnya dunia, yang mereka harapkan hanyalah ridho Allah semata. Mereka adalah yang senantiasa ikhlas dalam berdakwah, hati-hati dalam berfatwa, mengamalkan ilmunya, zuhud terhadap dunia, tawadu' serta tinggi khosyahnya kepada Allah ta'ala.
Bila Ulama dilecehkan
Setiap tafrith (peremehan) terhadap ulama berarti tafrith terhadap Rasulullah padahal. Allah ta'ala telah mengharamkan sikap peremehan terhadap harga diri dan martabat manusia secara umum, apalagi terhadap ulama dan Allah mengancam mereka dengan ancaman yang sangat keras. Rasulullah Saw bersabda;
مَنْ عَادَ لِيْ وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
"Barang siapa memusuhi waliku, maka sesungguhnya Aku telah mengumumkan perang dengannya". (HR. Bukhari).
Ibnu Abbas berkata, "Barang siapa yang menyakiti ulama, maka sesungguhnya ia telah menyakiti Rasulullah dan barang siapa yang menyakiti Rasulullah maka sesungguhnya ia telah menyakiti Allah Ta'ala."
Generasi salaf telah mencontohkan bagaimana bentuk hormat terhadap para ulama, namun fenomena yang terjadi hari ini berbeda jauh sekali, di mana banyak ulama yang masih hanif (lurus) -insya Allah- tidak lepas dari celaan dan dihujat serta dicap dengan sesuatu yang tidak semestinya. Dan yang membuat hati miris, ternyata hujatan dan celaan tersebut keluar dari lisan orang yang dianggap ulama oleh golongan tertentu tanpa merasa bersalah apalagi berdosa. Mereka dengan enteng menghujat para ulama hanya karena bukan satu golongan. Mereka menganggap bahwa kebenaran hanyalah milik golongannya saja, sedangkan selain mereka adalah ahli bid'ah yang sesat yang pantas untuk dihujat Sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam ashobiyah (fanatisme) golongan.
Adab terhadap Ulama
Di antara adab terhadap ulama adalah:
a. Bersikap sopan dan hormat
Pernah dikisahkan bahwa ibnu Abbas suatu ketika berdiri di sisi Zaid bin Tsabit dan langsung memegang tali kekang tunggangannya, maka beliau berkata, "Wahai anak paman Rasulullah, menyingkirlah kamu, lantas ia menjawab, 'Beginilah yang kami lakukan untuk menghormati para ulama dan orang-orang yang lebih senior dari pada kami."
b. Tidak mengkultuskan mereka
Tidak ada manusia yang ma'shum selain Rasulullah . Para ulama adalah manusia biasa yang juga tidak terlepas dari kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Oleh karena itu kita tidak diperbolehkan terlalu ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang nasrani terhadap rahib-rahib mereka, meskipun para rahib mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya.
c. Memahami perbedaan pendapat
Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah, maka ketika terjadi perselisihan di antara ulama hendaknya kita berlapang dada dan bersikap I'tidal (pertengahan) karena ini adalah sifat sikap ahlu sunnah waljama'ah, selama perbedaan mereka tidak melanggar rambu-rambu syar'i dan tidak terlalu fanatik dengan pendapat ulama tertentu saja dan menganggap yang lain sesat, sehingga berakibat retaknya ukhuwah islamiyah sesama muslim. Padahal sekaliber Imam Syafi'I saja masih berkata, "Jika hadits itu shahih, itulah madzhabku". Inilah bentuk ketawadhuan ulama terdahulu. Beliau tidak menganggap bahwa madzhabnyalah yang paling benar.
d. Membela Mereka
Yaitu kita berikan wala' (loyalitas) kepada mereka sesuai dengan porsinya. Kita bela mereka dari kejahatan makar musuh-musuh Allah yang tidak akan pernah rela jika cahaya-Nya bersinar, sebagaimana para hawariyun yang membela dan melindungi nabi Isa as dari kejahatan orang-orang Yahudi.
e. Tidak mengorek-ngorek kesalahan mereka
Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia tidak akan terlepas dari kesalahan dan lupa. Dan tidak sepantasnya kita mengorek-ngorek kesalahan orang lain apalagi para ulama yang memiki kedudukan yang agung. Cukuplah apabila mereka memiki kesalahan untuk kita ingatkan dengan cara yang bijak dan tidak perlu menghujat.
Inilah kiranya sikap yang adil dan subyektif, memuji bagi yang memang berhak untuk dipuji dan tidak berlebih-lebihan dalam mencelanya. Memberikan wala' (loyalitas) dan baro' (permusuhan) sesuai kadarnya. Syaikh Shaolih bin Fauzan berkata, "Apabila pada diri seseorang terdapat iman dan kefasikan, maka ia mendapatkan wala' karena keimananya dan mendapatkan baro' karena kefasikannya dengan tetap memberi nasehat kepadanya, merintahkannya untuk berbuat kebaikan dan melarangnya dari berbuat kemaksiatan". Wallahua'lam.
Ulama merupakan orang yang telah Allah pilih sebagai penerus risalah nubuwah, mereka adalah pewaris para nabi yang akan membimbing umat menuju cahaya Allah. Rasulullah bersabda,
إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia sungguh telah mengambil bagian yang melimpah." (HR. Tirmidzi)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Ini adalah kedudukan yang paling agung bagi orang yang berilmu. Para nabi adalah sebaik-baik hamba Allah, mereka mewariskan warisannya kepada generasi mereka, dan setiap yang diwariskan akan pindah kepada ahli waris, dan mereka adalah yang menempati kedudukan mereka (para nabi), tidak ada orang yang menduduki kedudukan para nabi kecuali para ulama. Maka mereka lebih berhak untuk mendapatkan warisan para nabi".
Para salaf dalam mendudukkan para ulama dan masayikh sebagaimana penghormatan mereka kepada Rasulullah karena mereka adalah pewaris nabi, yaitu yang mewarisi ilmu dan sunnahnya.
Namun hari ini masih jarang kita dapati orang-orang yang bisa mendudukkan para ulama sebagaimana mestinya. Umat banyak yang terjebak ke dalam jerat syetan, yaitu antara ifroth (berlebihan) terhadap mereka sehingga tanpa sadar menyeretnya ke dalam kesyirikan, atau terlalu tafrith (meremehkan), sehingga menyebabkan enggan bahkan menolak kebenaran yang datang kepadanya.
Kriteria Ulama
Fenomena yang terjadi di masyarakat pada umumnya, mereka memandang bahwa orang yang kerap naik mimbar, sering ceramah, selalu menggunakan kopiah atau surban di kepalanya mereka itulah yang dianggap sebagai ulama, meskipun tidak jarang di antara mereka yang masih jauh dari nilai-nilai islam.
Tidakkah kita ingat perkataan Ibnu Mas'ud bahwa tidaklah dikatakan alim (berilmu) itu dengan banyaknya hafalan hadits, tetapi orang alim adalah yang khosyah-(rasa takut) nya kepada Allah tinggi.
Dr. Nasir bin Abdul Karim berkata, "Ulama adalah oarng-orang yang mengetahui sekaligus memahami syariat Allah dan mengamalkannya, mereka mengikuti petunjuk al-qur'an dan as-sunnah serta salafus shalih".
Antara Ulama Akherat dan Ulama Su'
Ulama adalah pewaris para nabi, tempat rujukan penyelesaian probematika umat serta sebagai tempat untuk menimba ilmu. Oleh karenanya seharusnya kita selektif dan berhati-hati dalam memilih mereka untuk kita jadikan rujukan dan tempat menimba ilmu. Karena tidak semua ulama itu memiliki orientasi akherat untuk memperoleh ridho Allah ta'ala. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengejar kemegahan dunia serta kedudukan di hadapan manusia, sehingga rela menjual ilmu mereka dengan harga yang murah. Mereka itulah kategori ulama su' yang musti kita jauhi.
Al-'Alamah Ibnul Qayyim berkata, "Ulama su' duduk di pintu-pintu jannah menyeru manusia dengan lisan lisan mereka dan menyeru manusia ke neraka dengan perbuatannya".
Sedangkan ulama akherat adalah mereka yang tidak silau dengan gemerlapnya dunia, yang mereka harapkan hanyalah ridho Allah semata. Mereka adalah yang senantiasa ikhlas dalam berdakwah, hati-hati dalam berfatwa, mengamalkan ilmunya, zuhud terhadap dunia, tawadu' serta tinggi khosyahnya kepada Allah ta'ala.
Bila Ulama dilecehkan
Setiap tafrith (peremehan) terhadap ulama berarti tafrith terhadap Rasulullah padahal. Allah ta'ala telah mengharamkan sikap peremehan terhadap harga diri dan martabat manusia secara umum, apalagi terhadap ulama dan Allah mengancam mereka dengan ancaman yang sangat keras. Rasulullah Saw bersabda;
مَنْ عَادَ لِيْ وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
"Barang siapa memusuhi waliku, maka sesungguhnya Aku telah mengumumkan perang dengannya". (HR. Bukhari).
Ibnu Abbas berkata, "Barang siapa yang menyakiti ulama, maka sesungguhnya ia telah menyakiti Rasulullah dan barang siapa yang menyakiti Rasulullah maka sesungguhnya ia telah menyakiti Allah Ta'ala."
Generasi salaf telah mencontohkan bagaimana bentuk hormat terhadap para ulama, namun fenomena yang terjadi hari ini berbeda jauh sekali, di mana banyak ulama yang masih hanif (lurus) -insya Allah- tidak lepas dari celaan dan dihujat serta dicap dengan sesuatu yang tidak semestinya. Dan yang membuat hati miris, ternyata hujatan dan celaan tersebut keluar dari lisan orang yang dianggap ulama oleh golongan tertentu tanpa merasa bersalah apalagi berdosa. Mereka dengan enteng menghujat para ulama hanya karena bukan satu golongan. Mereka menganggap bahwa kebenaran hanyalah milik golongannya saja, sedangkan selain mereka adalah ahli bid'ah yang sesat yang pantas untuk dihujat Sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam ashobiyah (fanatisme) golongan.
Adab terhadap Ulama
Di antara adab terhadap ulama adalah:
a. Bersikap sopan dan hormat
Pernah dikisahkan bahwa ibnu Abbas suatu ketika berdiri di sisi Zaid bin Tsabit dan langsung memegang tali kekang tunggangannya, maka beliau berkata, "Wahai anak paman Rasulullah, menyingkirlah kamu, lantas ia menjawab, 'Beginilah yang kami lakukan untuk menghormati para ulama dan orang-orang yang lebih senior dari pada kami."
b. Tidak mengkultuskan mereka
Tidak ada manusia yang ma'shum selain Rasulullah . Para ulama adalah manusia biasa yang juga tidak terlepas dari kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Oleh karena itu kita tidak diperbolehkan terlalu ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang nasrani terhadap rahib-rahib mereka, meskipun para rahib mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya.
c. Memahami perbedaan pendapat
Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah, maka ketika terjadi perselisihan di antara ulama hendaknya kita berlapang dada dan bersikap I'tidal (pertengahan) karena ini adalah sifat sikap ahlu sunnah waljama'ah, selama perbedaan mereka tidak melanggar rambu-rambu syar'i dan tidak terlalu fanatik dengan pendapat ulama tertentu saja dan menganggap yang lain sesat, sehingga berakibat retaknya ukhuwah islamiyah sesama muslim. Padahal sekaliber Imam Syafi'I saja masih berkata, "Jika hadits itu shahih, itulah madzhabku". Inilah bentuk ketawadhuan ulama terdahulu. Beliau tidak menganggap bahwa madzhabnyalah yang paling benar.
d. Membela Mereka
Yaitu kita berikan wala' (loyalitas) kepada mereka sesuai dengan porsinya. Kita bela mereka dari kejahatan makar musuh-musuh Allah yang tidak akan pernah rela jika cahaya-Nya bersinar, sebagaimana para hawariyun yang membela dan melindungi nabi Isa as dari kejahatan orang-orang Yahudi.
e. Tidak mengorek-ngorek kesalahan mereka
Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia tidak akan terlepas dari kesalahan dan lupa. Dan tidak sepantasnya kita mengorek-ngorek kesalahan orang lain apalagi para ulama yang memiki kedudukan yang agung. Cukuplah apabila mereka memiki kesalahan untuk kita ingatkan dengan cara yang bijak dan tidak perlu menghujat.
Inilah kiranya sikap yang adil dan subyektif, memuji bagi yang memang berhak untuk dipuji dan tidak berlebih-lebihan dalam mencelanya. Memberikan wala' (loyalitas) dan baro' (permusuhan) sesuai kadarnya. Syaikh Shaolih bin Fauzan berkata, "Apabila pada diri seseorang terdapat iman dan kefasikan, maka ia mendapatkan wala' karena keimananya dan mendapatkan baro' karena kefasikannya dengan tetap memberi nasehat kepadanya, merintahkannya untuk berbuat kebaikan dan melarangnya dari berbuat kemaksiatan". Wallahua'lam.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







