1.a. Amanat
Amanat
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan (mengembalikan) amanat kepada yang berhak (ahlinya).” (QS. An-Nisa’ 4:58)
Jangan Khianat
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang diperca-yakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal 8:27)
“… Sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang
berkhianat.” (QS. Al-Anfal
8:58)
“Tanda orang munafiq itu tiga. Jika berkata-kata dusta, dan jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya khianat.” (HR. Bukhari, Muslim)
1.b. Tawadhu’
Tawadhu’
Terutama
dikalangan saudara-saudaranya sesama Muslim. Jangan hen-daknya ia
membeda-bedakan antara yang kaya dengan yang miskin. Rasu-lullah saw. sendiri
pernah berlindung kepada Allah dari sifat sombong.
“Hai
sekalian orang yang beriman, siapa yang murtad dari agamanya, maka Allah akan
mendatangkan kaum yang kasih kepada Allah, dan dikasihi oleh Allah, merendah
diri kepada sesama kaum mu’min; keras hati terhadap orang kafir.”
(Al-Maidah:54)
“Janganlah
sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah
Kami Berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu)
dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu
terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. An Nahl 16:88)
“Negeri akhirat itu, Kami Jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Qashash 28:83)
Bersabda Rasulullah saw. :Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada saya: Bertawadhu’ (merendah dirilah) hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” (HR. Muslim)
“Tiada berkurang harta karena sedekah dan Allah tiada menambah pada seorang yang mema’afkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seorang yang bertawadhu’ (merendah diri) karena Allah, melainkan dimuliakan oleh Allah. (HR. Muslim)
Anas r.a. berkata: Biasa unta Nabi saw. yang bernama Al’adhba tidak pernah dapat dikejar, tiba-tiba pada suatu hari ada seorang badwi berkendaraan unta yang masih muda dan dapat mengejar unta Al’adhba itu, hingga kaum muslimin merasa jengkel, lalu Rasulullah saw. bersabda: Layak sekali bagi Allah, tiada sesuatu di dunia ini yang akan menyombongkan diri melainkan direndahkan oleh-Nya. (HR. Bukhari)
Jangan Sombong
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (HR. Luqman 31:18)
Bersabda Nabi saw.: Tiada masuk ke sorga, siapa yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (atom yang kecil) dari sombong. Maka seorang berkata: Adakalanya seorang itu suka berpakaian bagus. Sabda Nabi saw.: Sesungguhnya Allah indah dan suka keindahan. Sombong itu ialah menolah hak kebenaran dan merendahkan orang. (HR. Muslim)
Haritsah bin Wahab r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sukakah saya beritahukan kepadamu orang-orang ahli neraka? Ialah tiap-tiap orang yang kejam, rakus dan sombong. (HR. Bukhari, Muslim)
“Ketika seorang berjalan dengan pakaian yang indah, bersisir rambut dengan sombong dan congkak jalannya. Tiba-tiba Allah membinasakannya, hingga ia timbul tenggelam di tanah sampai hari qiamat (ialah Qorun di zaman Musa a.s.) (HR. Bukhari, Muslim)
Kisah Qarun dan kekayaannya yang harus menjadi pelajaran bagi manusia:
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia
berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah Menganuge-rahkan kepadanya
perbendaharaan harta yang kunci-kunci-nya sungguh berat dipikul oleh sejumlah
orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah
kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang terlalu
membangga-kan diri.” Dan carilah pada apa yang telah Dianugerahkan Allah
kepa-damu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah Berbuat Baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Qarun berkata, “Sesungguh-nya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada
padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasannya Allah sungguh telah
Membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak
mengumpul-kan harta? Dan
tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa
mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah
orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai
seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguh-nya ia benar-benar
mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi
ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, Pahala Allah adalah lebih baik bagi
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh Pahala itu,
kecuali oleh orang-orang yang sabar.” Maka Kami Benamkan Qarun beserta rumahnya
ke dalam bumi. Maka tidak aa baginya suatu golongan pun yang menolongnya
terhadap Azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela
(dirinya).” (QS. Al Qashash 28: 76-81)
Balasan
bagi orang yang sombong :
“Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada)
dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang pada malaikat memukul dengan
tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas
dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap
Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri
terhadap Ayat-ayat-Nya.” (QS. Al An’am 6:93)
“Dan
apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah
kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya)
neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang
seburuk-buruknya.” (QS. Al Baqarah 2:206)
“Sesungguhnya
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak
(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. DemikianlahKami
Memberi Pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’raf
7:40)
Tidak
akan dibukakan pintu langit maksudnya doa dan amal mereka tidak diterima Allah.
1.c. Pemaaf
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf 7:199)
“Dan bersegeralah kamu kepada Ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran 3:133-134)
Bersabar
dan memberi maaf lebih baik daripada mengambil pembalasan : (pahala bagi orang
yang memberi maaf)
“Maka
sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia;
dan yang ada pada Sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang
beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal, dan (bagi)
orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima
(mematuhi) seruan Tuhan-nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian
dari Rezeki yang Kami Berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang
apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu
kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat
baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak Menyukai
orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya, orang-orang yang membela diri sesudah
teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas
orang-orang yang berbuat zaalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi
tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan
memaafkan sesung-guhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diutamakan.” (QS. Asy Syura 42:36-43)
“Dan
janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu
bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kamu kerabat(nya),
orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada Jalan Allah dan
hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa
Allah Mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
An Nur 24:22)
“Tiada
berkurang harta karena sedekah dan Allah tiada menambah pada seorang yang
mema’afkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seorang yang bertawadhu’ (merendah
diri) karena Allah, melainkan dimuliakan oleh Allah. (HR. Muslim)
“Bukan seorang yang kuat itu, yang kuat bergulat. Tetapi orang yang sungguh kuat, yaitu yang dapat menahan hawa nafsu ketika marah.” (HR. Bukhari, Muslim)
Keteladanan Nabi SAW. :
Aisyah r.a. bertanya kepada Nabi saw.: Pernahkah terjadi
padamu suatu hari yang lebih berat daripada penderitaanmu ketika perang Uhud?
Jawab Nabi saw.: Saya telah menderita beberapa kejadian dari kaummu dan yang
terberat yaitu hari Aqobah ketika saya berpropaganda kepada Ibnu Abd Yalail bin
Abd Kulal, yang mana tidak seorangpun dari mereka yang menyambut ajaranku. Maka
saya kembali dengan hati yang kesal, hingga seolah-olah saya berjalan dengan
tidak sadar, hanya ketika telah sampai di Qarnitstsa’alib, di situ baru saya
sadar dan mengangkat kepalaku ke langit, di mana saya melihat awan di atasku, tiba-tiba
Malaikat Jibril memanggil saya sambil berkata: Allah telah mendengar jawaban
kaummu kepadamu, dan kini telah mengutus Malaikat penjaga bukit untuk menurut
segala perintahmu. Kemudian terdengar suara Malaikat penjaga bukit memberi
salam sambil berkata: Ya Muhammad, Allah telah mendengar jawaban kaummu
kepadamu, dan saya penjaga bukit dipe-rintah oleh Allah menurut segala
kehendakmu. Maka perintahlah saya sesukamu. Kalau kau suka saya dapat
merobohkan dua bukit yang terbesar di daerah
Maraji’
Al-Qur’an Al-Karim
Imam Nawawy, Tarjamah Riyadhus Shalihin
Anis Matta, Membentuk Karakter Muslim
| Comments |
|









