



Majalah Al Usroh (edisi 8 Dzulqo'dah 1420 H) menuliskan jeritan seorang perawan tua dari Madinah Al Munawarah.
"Semula saya sangat bimbang sebelum menulis untuk kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu bahwasanya mereka akan mengetakan bahwa aku ini sudah gila atau kesurupan. Akan tetapi, realita yang aku alami dan dihadapi pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengerahuinya, membuatku memberanikan diri. Saya akan menuliskan kisahku ini dengan ringkas.
Ketika umurku mulai mendekati tahun, saya seperti gadis lainnya mengimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bahaimana jkami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik anak-anak kamai…dan…dan…
Saya adalah salah seorang yang sangat memerang poligami. Hanya semata mendengar orang berketa kepadaku, "Fulanah menikah lagi yang ke dua". Tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, "Kalau saya sebagai isteri-yang pertama-pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku". Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadaneg dengan pamanku mengenai masalah poligami. Mereka berusaha agar saya mau menerima poligamim, sementara saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari'at poligami. Saya katakan kepada mereka, "Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku". Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suarmi-isteri karena ia ingin memadu isteri pertamanya; saya menghasutnya sehingga melawan kepada suaminya.
Begitulah, hari terus berlalu dan aku sedangkan menanti pemuda inpuanku. Saya menanti…akan tetapi ia belum juga datang dan saya terus menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 tahun…oh Ilahii, apa yang kuperbuat? Apakasa saya harus keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini tidak malu. Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bosa saya perbuat, selain dari menunggu.
Pada suatu hari saya duduk-duduk, lalu saya mendengar salah seorang dari wanita berkata, "Fulanah jadi perawan tua".
Aku berkata kepada diriku sendiri, "Kasihan Fulanah jadi perawn tua". Akan tetapi…fulanah yang dimaksud itu ternyata aku. Ya Ilaahii! Sesungguhnya itu adalah namaku…saya telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian akan merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Saya mulai mengulng kembali perhitungan-[rahitunganku, apa yang saya kerjakan? Waktu terus berlalu, hari-hari silih berganti, saya ingin menjerit, saya ingi seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah naungannya, membantukumenyelesaikan problema-problemaku…saudaraku yang laku-laki tidak melalaikanku sedikit pun. Akan tetapi, ia bukan seperti seorang suami. Saya ingin hidup; ingin menikmati kehidupan. Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki. Mereka mengatakan, "Wanita ini tidak malu". Tidak ada yang bisa saya lakukan selain daripada diam. Saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api? Saya tidak sanggup.
Suatu hari saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, "Hari ini telah datang calon pengantin, tapi saya menolaknya…'tanpa terasa saya berkata, "Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh". Ia berkata kepadaku, "Dikarenakan ia menginginkan kamu sebagai isteri kedua, dan saya tahu kalau kamu sangat memerangi poligami". Hamper saja saya berteriak dihadapannya, "Kenapa kamu tidak menyetujuinya?" Saya rela menjadi isteri kedua atau ketiga, atau keempat…kedua tanganku di dalam api. Saya setuju, ya saya dulu memerangi poligami, sekarang menerimanya. Saudaraku berkata, "Sudah terlambat".
Sekarang saya mengetahui hikmah dalam poligami. Satu hikmah ini telah membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya Allah, ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini saya tujukan untuk kaum laki-laki, berpoligamilah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan firman Allah ta'ala, "Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu…" Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami. Dan kata-kata berikut ini saya tujukan kepada saudariku Muslimah yang telah bersuami, "Syukurilah nikmat ini, karena kamu tidak merasakan panasnya api perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu, akan tetapi harapkanlah pahala di sisi Allah. Liharlah keadaan saudarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yan ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabarannmu".
Kamu katakan kepadaku, "Akan datang seorang bujangan yang akan menikahinya?" saya katakan kepadamu, "Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki. Kalau setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, niscaya banyak wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Janga hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada pada posisinya". Katamu, :Semua itu tidak penting bagi saya, yang penting suamiku tidak menikah lagi". Saya katakana kepadamu, "Tangan yang berada di air tidak seperti tangan yang berada di atas bara api. Ini mungkin terjadi. Kalau suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya dunia ini fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois; janganlah halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan sempurna seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
Demi Allah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kamudian kamu menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu, "Menikahlah dengan dausariku dan jagalah ia". Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, suami yang shalih.
A.A.N- Madinah Al Munawarah
| Comments |
|









